Kamis, 18 Maret 2021

Manfaat Dan Khasiat Kuda Laut

Manfaat Dan Khasiat Kuda Laut

Manfaat Dan Khasiat Kuda Laut – Kuda laut atau уаng memiliki nama latin уаіtu Hippocampus sp. merupakan jenis ikan уаng memiliki banyak keunikan dan ѕаngаt berbeda dаrі kebanyakan ikan lainnya. Hippocamus уаng bеrаrtі kuda уаng bergerigi dan sesuai dеngаn bentuk morfologinya уаng unik dan aneh. Mulai dаrі bentuk tubuh, letak sirip, cara berenang, cara memakan makanan dan ternyata kuda laut tіdаk

Rabu, 17 Maret 2021

Kisah Samiri Apakah Samiri adalah Dajjal?

Kisah Samiri Apakah Samiri adalah Dajjal?

Samiri adalah pengikut Nabi Musa ‘Alaihissalam yang membangkang dan membuat patung anak lembu emas sehingga mendorong Bani Israel ke dalam penyembahan berhala.

Pendapat bahwa Samiri adalah Dajjal, dipopulerkan oleh Muhammad Isa Dawud. Tetapi pendapat ini tidak memiliki landasan dari Qur’an maupun hadits.

Sumber Israiliyat

Kisah Samiri sendiri merupakan bagian dari sejarah Bani Israel, sehingga perincian kisahnya dapat merujuk ke Sumber Israiliyat.

Namun Sumber Israiliyat harus dipilah, ada yang dapat diterima dan ada yang harus ditolak.

Contoh yang harus ditolak adalah versi Sumber Israiliyat bahwa Nabi Harun ‘Alaihissalam yang membuat patung anak lembu emas. (Kitab Keluaran 32:2–5)

Al Qur’an membantah versi tersebut, dan menyatakan bahwa Nabi Harun sudah meminta Bani Israel untuk mengikutinya, tidak menyembah patung anak lembu.

Tetapi Bani Israel beralasan bahwa mereka menunggu kedatangan Nabi Musa untuk memutuskan perkara tersebut. (QS. Thaha: 90–91)

Walau versi Sumber Israiliyat tentang pembuat patung anak lembu harus ditolak, namun ada keterangan dalam Sumber Israiliyat mengenai sosok Samiri, yaitu Zimri bin Salu.

Zimri bin Salu

Kisah ini bermula saat Bani Israel hendak memasuki tanah Kanaan. Raja Balak dari Kerajaan Moab yang takut terhadap Bani Israel, kemudian meminta bantuan ulama dari Pethor, yaitu Balaam bin Beor.

Raja Balak meminta Balaam untuk berdoa mengutuk Bani Israel,

“Sebab aku tahu: siapa yang kauberkati, dia beroleh berkat, dan siapa yang kaukutuk, dia kena kutuk.” (Kitab Bilangan 22:6)

Balak membawa Balaam ke puncak Gunung Pe’or sehingga dapat melihat Bani Israel di dataran di bawahnya.

Tetapi Balaam malah mendoakan keberkatan untuk Bani Israel, dan menyampaikan ramalan akan kehancuran Moab dan musuh Bani Israel lainnya. (Kitab Bilangan 24:2–19)

Namun demikian, Balaam memberi tahu Balak cara agar Bani Israel melakukan dosa, yaitu melalui godaan perempuan. (Kitab Bilangan 31:16)

Ketika Bani Israel memasuki wilayah Moab, terjadilah perzinahan dengan perempuan Moab. Perempuan-perempuan itu lalu mengajak mereka kepada berhala Moab. (Kitab Bilangan 25:1–2)

Salah satu Bani Israel yang berzina dengan perempuan Moab adalah Zimri (Samiri). Samiri berzina dengan Kozbi binti Zur, anak perempuan seorang kepala kaum di Moab. (Kitab Bilangan 25:14–15)

Narasi kisah ini sesuai dengan hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,

فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ “Sesungguhnya fitnah yang pertama kali terjadi pada Bani Israel adalah karena wanita.” (HR. Muslim)[1]

Hanya Patung Biasa

Ibnu Katsir saat membahas Surat Thaha ayat 88 mengutip Ibnu Abbas bahwa patung anak lembu itu tidak bersuara. Suara patung tersebut karena angin masuk dari duburnya dan keluar dari mulutnya.[2]

Samiri membuat patung tersebut berdasarkan teknik yang dipelajarinya dari bangsa Moab.

Dalam kitab-kitab tafsir, umumnya ada dua penafsiran terhadap kalimat فَقَبَضْتُ قَبْضَةً مِّنْ اَثَرِ الرَّسُوْلِ (QS. Thaha: 96).

Pertama, اَثَرِ الرَّسُوْلِ adalah jejak kuda malaikat Jibril.

Kedua, اَثَرِ الرَّسُوْلِ adalah ajaran atau syariat Nabi Musa.

Pendapat pertama adalah perkara ghaib (terkait malaikat) sehingga membutuhkan landasan dari Qur’an atau hadits.

Sedangkan pendapat kedua memiliki kesesuaian dengan konteks keseluruhan ayat.

قَالَ بَصُرْتُ بِمَا لَمْ يَبْصُرُوْا بِهٖ

Dia (Samiri) menjawab, “Aku mengetahui sesuatu yang tidak mereka ketahui.”

Maksudnya adalah Samiri mengetahui teknik pembuatan berhala, yang dapat mengeluarkan suara, dari bangsa Moab.

فَقَبَضْتُ قَبْضَةً مِّنْ اَثَرِ الرَّسُوْلِ فَنَبَذْتُهَا “Jadi aku ambil segenggam jejak rasul lalu aku melemparkannya.”

Maksudnya adalah Samiri hanya mengambil sebagian kecil ajaran atau syariat Nabi Musa, lalu membuangnya.

وَكَذٰلِكَ سَوَّلَتْ لِيْ نَفْسِيْ “Demikianlah nafsuku membujukku.” (QS. Thaha: 96)

Maksudnya adalah Samiri melakukannya karena menginginkan nikmat dunia dari penyembahan berhala, sebagaimana yang didapat tokoh-tokoh agama penyembah berhala dari Moab.

Bukan Dajjal

Al Qur’an kemudian menyebutkan bahwa Samiri mendapat hukuman pengucilan, suatu penyakit yang membuatnya tidak boleh disentuh atau menyentuh manusia. (QS. Thaha: 97)

Sehingga Samiri bukanlah Dajjal. Selain karena tidak ada dalil dari Qur’an maupun hadits, juga karena Samiri sepanjang hidupnya di dunia sudah tidak dapat lagi berinteraksi dengan manusia.

Wallahu A’lam

Sumber: Islampedia.id

Selasa, 16 Maret 2021

Mencari Kesalahan Alquran, Wanita Ini Malah Jadi Mualaf

Mencari Kesalahan Alquran, Wanita Ini Malah Jadi Mualaf

Seorang mualaf wanita kelahiran Amerika Serikat (AS) berusia 43 tahun yang tidak disebutkan namanya menceritakan kisahnya sebelum masuk Islam ke laman About Islam. Dia mengaku telah menjadi orang yang begitu sentimen terhadap Islam.

“Saya adalah salah satu (orang yang) Islamofobia terbesar di planet ini. Mengapa? Nah, saya lahir dan besar di Amerika. Ketika 9/11 terjadi, saya berusia 23 tahun dan saya belum pernah mendengar tentang Islam atau bahkan kata Muslim,” kata dia dilansir dari laman About Islam pada Ahad (14/3).

Dia mengaku ketakutan dengan peristiwa tersebut dan akhirnya memilih untuk menjadi seorang Kristen. Dia juga mengajak anak-anaknya, yang berusia masing-masing tiga dan enam tahun untuk ikut dalam pilihannya.

Di samping itu, dia juga mendukung dengan lantang perang dengan Irak. Padahal, dia bahkan tidak mengetahui di mana letak Timur Tengah, yang ia tahu, itu bisa terjadi di Jerman.

“Saya bahkan menyuruh anak-anak saya duduk di pangkuan saya, pada malam kami mengebom Afghanistan, menontonnya dan memberi tahu mereka bahwa adalah hal yang baik kami melakukan ini,” ujar dia.

Dia mengaku ketakutan dengan peristiwa tersebut dan akhirnya memilih untuk menjadi seorang Kristen. Dia juga mengajak anak-anaknya, yang berusia masing-masing tiga dan enam tahun untuk ikut dalam pilihannya.

Di samping itu, dia juga mendukung dengan lantang perang dengan Irak. Padahal, dia bahkan tidak mengetahui di mana letak Timur Tengah, yang ia tahu, itu bisa terjadi di Jerman.

“Saya bahkan menyuruh anak-anak saya duduk di pangkuan saya, pada malam kami mengebom Afghanistan, menontonnya dan memberi tahu mereka bahwa adalah hal yang baik kami melakukan ini,” ujar dia.

“Saya tidak tahu apa-apa tentang Irak, Iran, Afghanistan, Palestina, tidak ada apa-apa. Tapi, saya menghabiskan waktu bertahun-tahun menyebarkan kebencian dan kebohongan buruk tentang orang, tempat, dan agama, saya tidak tahu apa-apa tentang itu dan senang melihat mereka dibom,” lanjutnya.

Kemudian, pada saat Obama mencalonkan diri sebagai presiden AS untuk pertama kalinya, dia bersumpah tidak akan membiarkannya terjadi. Hal ini karena dia menganggap Obama ‘Muslim’, seperti yang dikatakan kebanyakan orang.

Dia kemudian mencari dan membaca Alquran untuk mencari kesalahan. Namun, ternyata Alquran mengubah hatinya, yang awalnya begitu benci terhadap islam.

“Alquran mengubah hati saya dan seluruh hidup saya. Saya menyadari bahwa Alquran tidak mengajarkan kebencian seperti yang selama ini saya percayai,” kata dia.

Selanjutnya, ia mulai belajar dan mencari tahu lebih lanjut apa yang sebenarnya terjadi di Timur Tengah. Dia juga mencari tahu bagaimana agama lainnya datang.

“Ketika saya mempelajari kebenaran, terutama keterlibatan saya dengan pemerintah, dan betapa manipulatifnya berita kami, saya sakit selama berhari-hari. Saya menangis begitu banyak, saya hampir dehidrasi,” ujarnya.

Dia mengaku tidak akan pernah melupakan kejadian itu. Namun, dia juga mulai menyadari semua hal, dia pun memilih untuk mulai menyebarkan kebenaran dan berharap orang lain akan turut sadar. Dia ingin orang lain mengetahui bahwa mereka telah dibohongi dan dituntun untuk membenci yang bukan menjadi musuh yang sebenarnya.

“Saya berdoa untuk menjangkau lebih banyak orang dengan kebenaran daripada yang pernah saya lakukan dengan kebohongan,” kata dia.

Sumber: republika.CO.ID

Senin, 15 Maret 2021

Surat Al Maidah Lengkap | Bacaan Lafadz Arab, Latin, dan Terjemahannya

Surat Al Maidah Lengkap | Bacaan Lafadz Arab, Latin, dan Terjemahannya

Bacaan surat Al Maidah lengkap – Surat Al-Maidah merupakan surat urutan ke-5 dalam Al-Quran. Surat…

Baca Selengkapnya di http://www.fiqihmuslim.com

Sabtu, 13 Maret 2021

Hati Terketuk Adzan, Kisah Mualaf Teteskan Air Mata Terindah di Arafah

Hati Terketuk Adzan, Kisah Mualaf Teteskan Air Mata Terindah di Arafah

Seorang pria di Skotlandia yang memutuskan masuk Islam tanpa pernah bertemu sebelumnya dengan seorang Muslim, bercerita tentang salah satu puncak perjalanan spiritualnya dalam Ramadan dan Idul Fitri ketujuhnya.

Pengalaman istimewa itu adalah merasakan berkah di Padang Arafah dengan meneteskan “air mata terindah, yang terasa seperti permata.”

Idul Fitri tahun ini adalah yang ketujuh bagi Alan Rooney, yang memutuskan untuk masuk Islam pada usia separuh baya tanpa pernah bertemu dengan seorang Muslim pun sebelumnya.

Bulan Ramadan dan Idul Fitri di tengah pembatasan sosial yang masih diterapkan di Inggris dan Skotlandia, tetap terasa khusus, kata Alan.

“Alhamdulilah, ini Ramadan dan Idul Fitri ketujuh bagi saya, perjalanan spiritual yang luar biasa, sangat istimewa. Saya mendapat kesempatan ke sejumlah tempat termasuk ke Padang Arafah saat naik haji.

“Di tempat ini, saya menangis untuk pertama kalinya, air mata yang begitu indah, saya sangat merasakan berkah, kebahagiaan dan kasih Allah. Ini merupakan cara Tuhan menggerakkan hati saya.

“Ramadan dan Idul Fitri selalu merupakan hal istimewa buat saya karena merupakan waktu untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah di rumah masing-masing (dalam kondisi lockdown), namun saya sangat rindu bertemu dengan teman-teman yang tak bisa saya temui karena lockdown,” kata Alan kepada wartawan BBC News Indonesia, Endang Nurdin.

Pria yang tinggal di Edinburgh, Skotlandia ini, secara resmi masuk Islam pada 2013 setelah belajar Qur’an selama sekitar 18 bulan. Saat itu ia menggambarkan dirinya sebagai “pria setengah baya, kulit putih, yang masuk Islam” sebelum bertemu dengan seorang Muslim pun.

Suara azan yang didengarnya ketika berlibur di Turki, mengetuk hatinya untuk mempelajari tentang Islam.

Saat itu ia tinggal di Inverness, Skotlandia, kota dengan hanya satu masjid kecil.

Dalam tujuh tahun perjalanan spiritualnya untuk menemukan Islam, Alan bercerita apa yang ia sebut “meneteskan air mata paling indah.”

“Pertama kali saya menangis dengan air mata paling indah yang pernah saya rasakan adalah saat saya berada di Padang Arafah, di luar Mekah saat menunaikan ibadah haji,” cerita Alan tentang pengalaman tahun 2016 itu.

“Saya tidak pernah merasakan air mata seperti ini sebelumnya. Rasanya sangat berharga, seperti permata, dengan kesucian yang sangat dalam. Saya bahkan ingat suhu air mata ini, terasa dingin, tidak seperti air mata hangat saat kita menangis.”

Air mata yang menunjukkan “berkah luar biasa serta kebesaran Allah yang maha pengasih,” katanya lagi.

Tangisan dalam perjalanan spiritual ini juga terjadi bila mendengar tentang kisah kehidupan Nabi Muhammad atau mendengar tentang kebaikan yang dilakukan orang, katanya.

“Namun air mata ini berbeda dari air mata istimewa yang mengalir di Padang Arafah, air mata yang sangat berarti bagi saya. Inilah apa yang dilakukan Tuhan menggerakkan hati manusia.”

Belajar tentang Islam selama 18 bulan

Setelah mendengar azan ketika berlibur di Turki pada tahun 2011, Alan langung membeli Qur’an di toko buku di Inverness, mulai mempelajari Qur’an, salat, serta berpuasa.

Ia mengatakan “Quran begitu mengguncangkan jiwanya, karena apa yang dibaca begitu banyak tentang diri sendiri. Sesuatu tentang diri sendiri yang tidak saya sukai dan saya memutuskan untuk berubah.” “Saya lakukan ini sendiri sekitar 18 bulan, tanpa bantuan siapa pun dan sebelum saya bertemu dengan seorang Muslim pun.” Setelah yakin dengan apa yang ia pelajari baru ia memutuskan masuk Islam dengan mengucapkan kalimat syahadat di masjid Inverness. “Setelah 18 bulan, saya menganggap diri saya Muslim. Saya salat lima kali sehari, berpuasa di bulan Ramadan dan makan dan minum sesuai dengan ajaran Islam,” katanya ketika itu. Dr Waheed Khan, pengurus masjid di Inverness, yang menyaksikan Alan mengucapkan kalimat syahadat, mengatakan pria Skotlandia ini “sudah berulang kali membaca Qur’an, berpuasa” sebelum masuk Islam. “Ini perjalanan spiritual dia, dia belajar terlebih dahulu, dan ketika datang ke masjid, dia sudah banyak mengetahui tentang Islam. Dia juga sangat sopan, rendah hati,” kata Waheed Khan kepada BBC News Indonesia.

Mentor bagi orang yang masuk Islam “Dia bahkan menjadi mentor bagi orang baru yang masuk Islam,” tambahnya. Sementara itu Amin Buxton, akademisi Muslim di Universitas Napier, Edinburgh mengatakan ,”Alan selalu mencari tahu lebih banyak dalam perjalanan spiritualnya dan ia sangat berdedikasi untuk membantu komunitas, khususnya mereka yang baru masuk Islam.” Alan sendiri mengatakan ia tidak hanya ingin menjadi mentor di Skotlandia namun di seluruh Inggris dan belahan dunia lain. “Di kota tempat saya tinggal sekarang, Edinburgh, Skotlandia, saya mengajar mereka yang tertarik masuk Islam. Saya juga ingin terlibat menjadi mentor bagi mereka yang baru menjadi Muslim di seluruh negara saya dan tempat lain.” Namun ia mengatakan ia “masih terus belajar dan secara rutin hadir dalam berbagai program dan menghadiri ceramah ulama dari negara-negara lain.”

Bertemu dengan para santri Indonesia di Hadramaut

Sejumlah perjalanannya ke luar negeri termasuk ke Yaman dan dia mengatakan sempat bertemu dengan para santri asal Indonesia di Hadramaut.

“Pada 2017 saya ke Hadramaut dan menghabiskan waktu 40 hari di pesantren Darul Mustafa di Tarif. Banyak santri Indonesia di sana dan saya berteman dengan sejumlah di antara mereka,” ceritanya.

Sejak awal sampai saat ini, Alan mengatakan keputusannya untuk masuk Islam disambut keluarga dan teman-temannya.

“Alhamdulillah, saya tidak pernah mendapat reaksi negatif dari keluarga dan teman-teman setelah masuk Islam dan menjalankan ibadah. Orang yang kenal saya menerima keputusan ini bahkan bilapun ada yang tidak memahami keputusan ini,” ceritanya.

“Saya pindah dari Inverness yang hanya punya satu masjid ke ibu kota Skotlandia, Edinburgh, di mana banyak terdapat masjid. Saya disambut di komunitas lokal baru di manapun saya tinggal.”

Saat ini ia bekerja di badan amal yang membantu warga terkait masalah tunawisma, pekerjaan, hutang, masalah keluarga dan imigrasi.

“Masalah-masalah seperti ini semakin banyak dalam situasi pandemi dan lockdown, jadi saya tetap sibuk membantu orang,”

Alan mengatakan sejauh ini belum ada rencana khusus untuk Idul Fitri, sesuatu yang akan “terasa sangat aneh karena tidak dapat berkumpul dengan teman-teman lain satu komunitas.”

“Namun mungkin saya akan bertemu dengan teman-teman melalui video. Akan sangat menyenangkan bertemu dengan yang lain walaupun melalui internet.”

“Tahun ini adalah Ramadan dan, Insya Allah, Idul Fitri ketujuh bagi saya. Namun terkadang rasanya baru seperti kemarin, saya duduk di masjid kecil di Inverness dan mengucapkan kalimat syahadat,” pungkas Alan menutup kisahnya.

Sumber

Suara.com

 

Ad Placement