Selasa, 12 Desember 2017

Kisah Singkat Nabi Idris as - Karya Ilmu Pengetahuan

Kisah Singkat Nabi Idris as - Karya Ilmu Pengetahuan

Nabi Idris as adalah nab i kedua setelah Nabi Adam as. Sebagai seorang nabi, Allah SWT memberinya mukjizat berupa kepandaian ilmu pengetahuan.

Dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya itulah Nabi Idris as mengajak kaumnya untuk memperbaiki akhlak dan moral mereka yang telah rusak.



Nabi Idris as mengajarkan cara menyembah kepada Allah SWT, bukan kepada berhala-berhala atau benda lain selain Allah SWT, yang telah mereka jalani selama ini.

Pada waktu itu, kuda masih belum menjadi hewan tunggangan. Namun Nabi Idris as sudah bisa menungganginya, sehingga kuda merupakan kendaraan yang paling disukai.

Sebagai nabi yang serba bisa, Nabi Idris as juga mengajarkan cara menjahit, berhitung dan menulis.

Nabi Idris as ini telah menerima 10 shlifah dari Allah SWT yang berisi ajaran kebenaran atau bisa disebut dengan lembaran wahyu Allah SWT.




Kitab itulah yang menjadi panutan dan tuntunan bagi Nabi Idris as untuk berdakwah, untuk mengajak kaumnya menuju jalan Allah SWT dengan benar.

Nabi Idris as mendapat julukan “Asadud Usud”, yang artinya singa dari segala singa, karena kegagahan dan keberaniannya.

Meskipun demikian, Nabi Idris as tidak bersifat semena-mena kepada orang yang takut kepadanya. Malah Nabi Idris as mengajak ke jalan Allah SWT dengan rasa kasih sayang serta pemaaf.

Itulah yang membuat Nabi Idris as banyak disukai, sehingga kaumnya yang semula berada dalam kesesatan, mengikutinya dn menuju kebaikan.

Sabtu, 04 November 2017

Kisah Nabi Adam a.s Bapak Umat Manusia

Kisah Nabi Adam a.s Bapak Umat Manusia

Ketika manusia hendak diciptakan, sebelumnya Allah SWT telah menciptakan alam semesta dan isinya. Allah SWT menciptakan manusia agar menjadi khalifah yang mengurus dunia.

Para malaikat bertanya kepada Allah SWT,
“Mengapa Engkau hendak menempatkan di permukaan bumi orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah, sedang kami semua bertasbih memuji dan mensucikanMu?”

Allah SWT berfirman,
“Sesungguhnya Aku mengetahui apa-apa yang tidak kamu ketahui.”

Adam, sebagai manusia pertama yang diciptakan oleh Allah SWT dari tanah liat, diajari berbagai hal yang tidak pernah diajarkan kepada malaikat maupun iblis.



Maka ketika di hadapan para malaikat dan iblis, Allah SWT bertanya tentang nama-nama benda, dengan mudah Adam teringat dan menjawabnya.

Sedangkan para malaikat dan iblis tidak dapat menjawab. Allah SWT kemudian memerintahkan malaikat dan iblis untuk bersujud kepada Adam, tapi iblis menolak dengan alasan ia diciptakan dari api, merasa lebih mulia daripada Adam yang diciptakan dari tanah.

Karena tidak patuh dengan perintah Allah SWT, iblis diusir keluar dari surga dan ditempatkan di neraka.

Sejak saat itulah iblis memiliki rasa dendam kepada Adam. Iblis memintah kepada Allah SWT untuk dipanjangkan umurnya sampai hari kiamat. Iblis bersumpah akn membujuk dan menyesatkan seluruh anak cucu Adam agar nanti pada hari kiamat bisa menemaninya di neraka.

Setelah iblis tidak tinggal lagi di surga, penghuni surga tinggal Adam bersama para malaikat saja. Dari tulang rusuk Adam, Allah SWT kemudian menciptakan seorang manusia lagi yang diberti nama Hawa, untuk menemani Adam di surga.

Tiada kenikmatan yang demikian luar biasa seperti dirasakan Adam dan Hawa di surga. Mereka bersyukur atas kenikmatan yang diberikan Allah SWT.

Namun ada satu larangan dari Allah SWT, yaitu mereka dilarang memetik dan makan buah khuldi. Semua buah boleh dipetik, kecuali buah Khuldi. Namun sayangnya, larangan Allah SWT tersebut dilanggar oleh Adam dan Hawa.




Semua karena adanya rayuan dari iblis.
“Sebenarnya jika memakan buah khuldi itu, kalian akan menjadi penghuni surga untuk selama-lamanya.”

Awalnya Adam tak percaya sama sekali dengan rayuan iblis ini. Iblis tak patah arang. Di dekatinya Hawa agar merayu Adam untuk memetik buah khuldi dan memakannya bersama-sama.

Dan…
Iblis berhasil juga. Jika Adam dan Hawa makan buah khuldi, pasti mereka akan diusir juga dari surga.

Lama kelamaan terus dibujuk iblis, Adam mulai goyah juga.
“Mungkin saja apa yang dikatakan iblis itu benar. Tiada salahnya mencoba seperti apa rasanya buah khuldi itu.”

Mereka kemudian memetik buahkhuldi serta memakannya. Tentu saja perbuatan mereka diketahui oleh Allah SWT.
Allah berfirman,
“Tidakkah Aku telah melarang kalian memakan buah pohon khuldi dan memberitahu kalian bahwa iblis adalah mjusuh yang nyata kalian.”

Penyesalan dan permohonan ampun Adam dan Hawa yang telah melanggar larangan Allah SWT, tidak merubah keputusan Allah SWT untuk menurunkan ke bumi secara terpisah.
Adam diturunkan di Hinsudtan dan Hawa di Jeddah.

Setelah bertahun-tahun saling mencari, akhirnya mereka bertemu di Muzdalifah.

Mereka hidup di bumi dengan sangat berbeda dengan kehidupan di surga. Untuk mempertahankan hidupnya, Adam dan Hawa harus bekerja keras membanting tulang, bertarung melawan kondisi alam yang masih murni saat itu.

Pasangan Adam dan Hawa dikarunia anak 20 pasang anak kembar. Yang kemudian terus beranak pinak hingga menjadi beratus juta manusia tinggal di bumi sekarang ini.

Selesai.

Sabtu, 23 September 2017

Kisah Mahasiswa dan Si Penulis Cerpen

Kisah Mahasiswa dan Si Penulis Cerpen

Kisah Teladan Islami hadir kembali untuk para penggemar setia blog ini. Kisah ini sudah sangat terkenal dan sering kita baca dengan banyak versi dan tulisan.

Kali ini tentng dialog antara mahasiswa dan penulis cerpen terkenal. Bagaimana dialognya?
Berikut cuplikan dialognya.

Pada suatu hari, ada seorang mahasiswa tanpa disadari bertemu dengan seorang penulis cerpen terkenal di kotanya. Sontak saja, si mahasiswa senang bukan kepalang.



Setelah agak lama ngobrol, selanjutnya terjadilah obrolan yang mengena dan dimulai dari si penulis cerpen.
Penulis cerpen berkata,
“Saya tak habis pikir, kenapa orang-orang Islam sangat emosional ketika mengetahui Al-Qur’an dibakar dan dihina oleh orang lain.

Kemudian penulis cerpen berkata lagi,
“Bukankah yang dibakar tersebut sebenarnya hanya kertas, sedangkan sejatinya Al-Qur’an itu masih murni tak terjamah dan tetap tersimpan di al Lauh al Mahfuz?”

Sejurus kemudian suasana menjadi hening oleh perkataan si ahli menulis cerpen ini. Dan kemudian penulis cerpen agak maju ke depan sambil memamerkan salah satu karyanya.

Seketika itu juga, mas mahasiswa langsung maju ke depan si ahli cerpen dan bertakata,
“Pak, boleh saya pinjam cerpennya?”
“Boleh saja, silahkan di sini banyak kumpulan cerpen karya terbaik saya,” kata si ahli cerpen.

Setelah menerima cerpen tersebut, kemudian mahasiswa tersebut merobek-robek beberapa halaman dari cerpen tersebut.

Tak disangka, si ahli cerpen dengan emosional berkata,
“Lho, saya pinjamkan cerpen itu untuk kamu baca, kenapa kok malah kamu robek-robek? Apakah Anda sudah memancing emosi saya?”




Sambil tersenyum si mahasiswa itu menjawab,
“Lho Pak, bukankah ini hanya sekedar kertas saja. Sejatinya isi cerpen tersebut kan ada di benak dan pikiran Bapak. Kenapa Bapak juga emosional?”

Si mahasiswa melanjutkan,
“Tahukah Bapak kalau Al-Qur’an itu diturunkan Allah SWT kepada manusia untuk dibaca, bukan untuk dibakar-bakar.”

Si penulis cerpen tertunduk malu dan kemudian meminta maaf atas kekeliruan yang dikatakannya tadi.

 

Ad Placement