Jumat, 29 November 2013

Gratis Sepanjang Masa

Gratis Sepanjang Masa

Suatu sore, seorang anak menghampiri Ibunya di dapur. Ia menyerahkan selembar kertas yang telah ditulisinya. Setelah sang Ibu mengeringkan tangannya dengan celemek, ia pun membaca tulisan itu dan inilah isinya :

  • Untuk memotong rumput : Rp. 5.000
  • Untuk membersihkan kamar tidur minggu ini : Rp. 5.000
  • Untuk pergi ke toko disuruh Ibu : Rp. 3.000
  • Untuk menjaga adik waktu Ibu belanja : Rp. 5.000
  • Untuk membuang sampah : Rp. 1.000
  • Untuk nilai yang bagus : Rp. 3.000
  • Untuk membersihkan dan menyapu halaman : Rp. 3.000
Jadi hutang Ibu adalah : Rp. 25.000

Sang Ibu memandangai anaknya dengan penuh sayang. Berbagai kenangan terlintas dalam benak sang Ibu. Lalu ia mengambil pulpen, membalikkan kertasnya. Dan inilah yang ia tuliskan :

  • Untuk sembilan bulan Ibu mengandung kamu : Gratis
  • Untuk semua malam Ibu menemani kamu : Gratis
  • Untuk semua mainan, makanan dan baju : Gratis
  • Untuk membawamu ke dokter dan mengobati saat kamu sakit, serta mendo’akan kamu : Gratis 
  • Untuk semua saat susah dan air mata dalam mengurus kamu : Gratis
  • Kalau dijumlahkan semua, harga cinta Ibu adalah : Gratis 

Anakku.. dan kalau kamu menjumlahkan semuanya, akan kau dapatkan bahwa harga cinta Ibu adalah GRATIS

Seusai membaca apa yang ditulis Ibunya, sang Anak pun berlinang air mata dan menatap wajah Ibunya, dan berkata, “Bu, aku sayang sekali sama Ibu”

Ia kemudian mendekap Ibunya. Sang Ibu tersenyum sambil mencium rambut buah hatinya, “Ibupun sayang kamu nak” kata sang Ibu.

Kemudian sang anak mengambil pulpen dan menulis sebuah kata dengan huruf huruf besar sambil diperhatikan sang Ibu “LUNAS

_______*****_______
Sahabat, seberapapun jasa yang telah kita berikan kepada Ibu, seberapapun uang yang kita dapatkan dan kita berikan kepada Ibu, atau seberapapun liter keringat kerja yang kita kumpulkan untuk Ibu, tidak akan dapat mengganti kasih sayang seorang Ibu. Kasih Ibu sepanjang masa. Dapatkah kita menukar kasih sayang Ibu itu dengan materi ? menukar dengan bilangan angka ? atau menukar dengan rangkaian terima kasih ?

Tidak sahabat, sama sekali tidak bisa. Oleh karenanya sahabatku, berbuat baiklah kepadanya, sayangilah beliau, cintailah beliau, dan do’akanlah beliau,…

———- www.alkisaah.blogspot.com ———-

Rabu, 27 November 2013

Bocah Pembeli Ice Cream

Bocah Pembeli Ice Cream

cerita inspiratif islami, kisah inspiratif islami, bocah pembeli ice cream
Kisah ini terjadi sudah lama sekali, sekitar tahun 1930-an. Ketika itu harga es krim sundae masih terbilang murah. Suatu hari, seorang bocah laki-laki berumur 10 tahun mendatangi kedai kopi sebuah hotel dan duduk di satu meja. Seorang pelayan menaruh segelas air di depannya.
“Berapa harga es krim sundae ?” tanya bocah itu.
“50 sen” jawab si pelayan.
Bocah itu mengeluarkan kepingan uang dari kantong celananya dan menghitungnya, “Hmmm.. Kalau es krim yang biasa berapa ?” tanyanya lagi.
Saat itu, sudah banyak pelanggan yang menunggu untuk dilayani. Dan si pelayan menjadi tidak sabar, “35 sen” jawabnya dengan kasar.
Bocah itu menghitung uangnya sekali lagi dengan hati-hati, “Aku pesan yang biasa saja” lanjutnya.
Tak lama kemudian, si pelayan membawa pesanan bocah itu dan menaruh bonnya di meja, lalu dia pergi. Setelah menghabiskan es krimnya, ia membayar ke kasir dan pergi. Ketika si pelayan hendak membersihkan meja yang tadi dipakai bocah itu, ia kaget dan mulai menangis. Di samping piring tempat es krim terselip dua koin bernilai 5 sen dan lima koin bernilai 1 sen. Inilah alasannya bocah tadi tidak jadi memesan es krim sundae karena ia ingin memberikan tips yang layak kepada si pelayan.
———-********———-
Bukankah kita sering kali bersikap seperti pelayan tadi ? Selalu cepat menghakimi orang lain. Selalu melihat suatu keadaan atau kejadian dari satu sisi saja. Sesuatu yang tampak tidak baik di satu sisi belum tentu tidak baik juga di sisi yang lain.
Seperti pada cerita di atas, tindakan si bocah yang membuat si pelayan jengkel ternyata berujung pada maksud dan niat yang baik. Dan, sayangnya, si pelayan terlambat menyadarinya. Nah, sebelum kita mengalami hal yang sama seperti pelayan tadi, mari belajar untuk memahami suatu kejadian atau seseorang  dari berbagai sisi, sehingga kita bisa mengambil tindakan atau mengeluarkan perkataan yang tidak akan kita sesali di kemudian hari.

———- www.alkisaah.blogspot.com ———-

Senin, 25 November 2013

Ibnu Hajar Al Asqalany vs Yahudi

Ibnu Hajar Al Asqalany vs Yahudi

Mari takjubi kisah para Shalihin. Pada ilmu & daya ruhani mereka terkandung cahaya Allah. Maka bahkan ejekannya pun jadi jalan hidayah.

Suatu ketika Ibn Hajar Al ‘Asqalani; beliau adalah penulis Fathul Bari (Syarah Shahih al-Bukhari) yang termasyhur itu, melintas dengan kereta mewahnya. Beliau dicegat oleh seorang Yahudi penjual minyak ter. Penampilan keduanya bertolak belakang. Ibnu Hajar tampak anggun & megah. Sementara itu, Yahudi penjual minyak ter itu dekil, compang-camping, berbau busuk, & kumal.

Dicegatnya Ibnu Hajar lalu Yahudi itu bertanya, “Nabimu mengatakan bahwa dunia adalah penjara bagi orang mukmin & surganya orang kafir (HR Muslim), benarkah demikian ?”, ujarnya.

“Betul, demikianlah sabda beliau SAW”, sahut Ibnu Hajar tersenyum.

“Kalau begitu akulah mukmin & kamulah kafir !”, hardik si Yahudi.

“Oh”, sahut Ibnu Hajar sembari tersenyum lagi, “Mengapa bisa demikian hai Ahli Kitab yang malang ?”

Jawab si Yahudi, “Coba lihat, aku hidup dalam susah dan nestapa sebagai penjual minyak ter, maka aku merasa terpenjara, maka aku mukmin. Sementara kamu, hidup mewah dan megah, maka kamu seperti di surga, sehingga sesuai hadits tadi, kamu adalah orang kafir.”

Ibnu Hajar menyimak. Setelah tersenyum lagi, beliau berkata, “Sudikah jika aku jelaskan padamu makna yang benar dari hadits itu duhai cucu Israil ?”

“Dunia adalah penjara bagi seorang mukmin seperti diriku, sebab segala kemewahan yang kunikmati sekarang, tak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang Allah sediakan untuk kami di surga. Dalam kemewahan ini, kami menanti nikmat yang jauh lebih berlipat. Maka hakikatnya, dunia ini adalah penjara buat kami.”

“Sementara kau, di dunia memang payah & menderita, tapi semua nestapamu itu tiada artinya dibanding dengan apa yang Allah sediakan bagimu kelak di neraka. Duniamu yang menyiksa itu, sungguh adalah surga tempatmu masih bisa tersenyum, makan, & minum; menanti siksa abadi kelak di neraka sejati.” Yahudi penjual ter itu ternganga.

Lalu dengan mata berkaca-kaca, dia berkata dengan lirih, “Asyhadu anlaa Ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammmadan Rasulallah..”

Segera, tanpa memedulikan pakaiannya yang mungkin terkotori, Ibnu Hajar memeluk si penjual minyak ter yang kini telah berislam.

“Selamat datang ! Selamat datang saudaraku ! Selamat atas hidayah Allah padamu, segala pujian hanya milikNya !” Mereka berangkulan erat.

Hari itu, si penjual minyak ter dibawa Ibnu Hajar ke rumahnya, dididik, & akhirnya menjadi salah seorang muridnya yang utama.

Begitulah kekuatan ilmu & ruhani yang tersambung ke langit suci. Orang Shalih itu mengilhami, bahkan ‘ejekan’nya pun, jadi jalan hidayah. 🙂 .

———- www.alkisaah.blogspot.com ———-

Sabtu, 23 November 2013

Berat Segelas Air

Berat Segelas Air

Saat Stephen R. Covey mengajar tentang Manajemen Stress, dia bertanya kepada para peserta kuliah,

“Menurut Anda, kira-kira berapa berat segelas air ini ?”

Jawaban para peserta sangat beragam, mulai dari 200 gram sampai 500 gram.

“Sesungguhnya yang menjadi masalah bukanlah berat absolutnya. Tetapi berapa lama Anda memegangnya” ungkap Covey.

“Jika saya memegangnya selama satu menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama satu jam, lengan kanan saya akan sakit. Jika saya memegangnya selama satu hari penuh, mungkin Anda harus memanggilkan ambulans untuk saya” lanjutnya.

“Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat. Jika kita membawa beban terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu terasa meningkat beratnya” ungkap Covey.

“Yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut. Istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi. Kita harus meninggalkan beban kita, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi. Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sehari-hari, tinggalkan  beban pekerjaan Anda. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok” lanjutnya.

“Apapun beban yang ada di pundak Anda hari ini, coba tinggalkan sejenak. Setelah beristirahat, nanti dapat diambil lagi. Hidup ini sangat singkat, jadi cobalah menikmatinya dan memanfaatkannya. Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat atau disentuh, tapi dapat dirasakan jauh di dalam hati kita” kata Covey.

Sumber

———- www.alkisaah.blogspot.com ———- 
 

Ad Placement